Tantangan Berat Dirjen Pajak Baru

?
MENTERI Keuangan Agus Martowardojo menunjuk Kepala Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan Fuad Rachmany sebagai Direktur Jenderal Pajak yang baru menggantikan Tjiptardjo. Fuad mendapat tugas untuk memenuhi target penerimaan pajak dan memperbaiki kinerja aparat pajak.
Tugas yang tidak mudah karena memang tantangannya tidak ringan. Persoalan integritas aparat pajak sedang mendapat sorotan tajam menyusul terungkapnya kasus Gayus Tambunan. Bagaimana karyawan Golongan IIIA bisa memiliki simpanan lebih dari Rp 100 miliar, padahal ia baru empat tahun bekerja.
Tidak semua aparat pajak memang bermental buruk dan merugikan negara seperti Gayus. Namun sulit untuk menerima bahwa Gayus bermain sendirian dalam mengatur pembayaran pajak yang seharusnya dilakukan pengusaha.
Kita tahu bahwa ada 151 perusahaan yang selama ini menggunakan “jasa” Gayus. Kita belum tahu berapa besar potensi kerugian yang dihadapi negara karena pembayaran yang direkayasa oleh Gayus. Yang jelas, Gayus menerima lebih Rp 100 miliar dari “jasa” yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan itu.
Sulit untuk bisa menerima alasan bahwa atasan Gayus tidak mengetahui sepak terjang bawahannya. Apalagi ketika dari beberapa kasus keberatan pajak yang disidangkan di Pengadilan Pajak, Gayus sering kalah. Bagaimana mungkin lalu ia dibiarkan terus menangani perkara-perkara pajak besar.
Di tengah upaya pengungkapan kasus yang tengah dilakukan polisi, tugas Dirjen Pajak yang baru untuk membenahi aparatnya di dalam. Bagaimana kejahatan yang dilakukan Gayus tidak justru menginspirasi karyawan-karyawan yang lain untuk melakukan kecurangan yang sama.
Tantangan terberat yang harus dilakukan Fuad adalah membuat aparat pajak menyadari bahwa mereka adalah patroit bangsa. Mereka mempunyai tanggung jawab yang besar untuk membangun bangsa dan negara ini. Keberhasilan mereka untuk bisa mengumpulkan setiap sen pajak yang dipungut dari masyarakat, menentukan berhasil atau gagalnya bangsa ini mencapai kemajuan bersama.
Ketika mentalitas aparat pajak seperti Gayus yang hanya mementingkan diri sendiri, hancurlah negara ini. Potensi kemajuan yang dimiliki bangsa ini hanya dinikmati segelintir orang saja, sementara yang lain hidup dalam keterbatasan.
Mengapa? Karena orang lalu akan berpikir yang sama. Semua akan mendahulukan untuk memikirkan kepentingannya sendiri-sendiri. Orang akan saling mengelabui dan akhirnya tidak ada yang mau membayar pajak sebesar kewajiban yang harus dilakukan.
Salah satu yang membuat penerimaan pajak di tahun 2010 tidak bisa memenuhi target seperti yang ditetapkan, karena orang akan berpikir untuk apa bersikap jujur. Ketika banyak orang dibiarkan mengemplang pajak dan itu dibenarkan oleh aparat pajak, orang akan merasa tidak adil ketika hanya ia sendiri yang harus membayar pajak secara benar.
Moral hazzard seperti itulah yang sungguh kita takutkan. Bayangkan di tengah perekonomian yang begitu menggeliat di tahun lalu, bahkan banyak sektor mencatat rekor tertinggi dalam produksi maupun penjualan, penerimaan pajak justru tidak tercapai.
Kita memang menyadari bahwa menangani pajak ibarat menggenggam telur di tangan. Cara menanganinya harus dilakukan secara hati-hati. Terlalu keras menekan telur akan pecah, namun terlalu longgar untuk memegang telur akan jatuh.
Pengenaan pajak yang terlalu memberatkan akhirnya membuat dunia usaha tidak tertarik untuk mengembangkan usahanya karena tidak bisa menikmati hasil kerja keras mereka. Sebaliknya terlalu ringan membuat potensi penerimaan negara bagi pembiayaan pembangunan akan semakin terbatas.
Dalam dunia yang semakin terbuka, semua negara berlomba untuk menarik investasi. Pajak merupakan salah satu instrumen yang dipakai untuk melihat daya tarik sebuah bangsa guna melakukan investasi atau tidak.
Fuad diharapkan memperhatikan benar soal itu. Setidaknya Fuad harus memperhatikan negara di sekitar dalam penerapan pajak dan kita harus mampu bersaing untuk bisa menarik investasi ke Indonesia. Tidak mungkin kita berjalan sendiri seperti yang kita maui, karena dunia sekarang ini sudah begitu terbukanya.
Apalagi jika dilihat negara lain memiliki keunggulan lain seperti infrastruktur yang lebih siap, kepastian hukum yang lebih baik, dan ekonomi yang tidak mahal. Sementara pada kita memang ada keunggulan di sisi sumber daya alam serta pasar, namun pengusaha harus membayar sendiri kebutuhan yang diperlukan termasuk infrastruktur.
Sebagai orang yang lama menangani sektor ekonomi modern yakni pasar modal dan lembaga keuangan, Fuad diharapkan mampu mengeluarkan terobosan baru. Kita sangat membutuhkan sistem perpajakan yang lebih kompetitif dibandingkan negara lain, sementara pemenuhan target dilakukan dengan mengurangi kebocoran pajak.
Kita sangat percaya bahwa potensi pajak yang kita miliki sebenarnya mencukupi kebutuhan anggaran yang diperlukan untuk meraih kemajuan. Hanya saja persoalannya tidak semua potensi itu mampu kita kumpulkan, karena terlalu banyak yang bocor di tengah jalan.
Inilah yang kita harapkan bisa diperbaiki oleh Fuad Rachmany. Kuncinya adalah bagaimana membuat aparat pajak bekerja dengan penuh integritas dan sekali lagi sadar bahwa peran mereka sangat menentukan maju-tidaknya bangsa dan negara ini.
Reformasi dlm pengertian paling kongkret diwujudkan sebagai rangkaian perubahan…rangkaian perubahan berhasil mewujudkan tujuannya apabila di dalamnya ada segelintir aparat yg msh menjaga integritasnya, sebagian besar yg mengakui salah dan ingin berubah, serta sebagian kecil yg tetap sinis akan perubahan….dan nantinya perubahan yg diharapkan dpt menjadi way of life aparat pajak…yg menjadi tantangan adalah bagaimana merangkul sebagian kecil aparat yg menentang perubahan tsb & menjadikan mereka aktor dr perubahan tsb.
Di samping itu dukungan & pemulihan “kembali” kepercayaan masyarakat terhadap pajak dan aparatur pajak sangat penting untuk mendukung kinerja aparatur pajak.