Bank Harus Evaluasi Sistem dan Orang
Sumber: metrotvnews.com, 3 April 2011

internal control !
SISTEM dan orang merupakan dua hal yang penting dan saling menopang dalam organisasi. Berbagai kejahatan perbankan yang marak terjadi akhir-akhir ini semakin meyakinkan kita betapa antara sistem dan orang tidak bisa dipisahkan dan bahkan harus terus dijaga.
Lihat saja apa yang terjadi di Citibank sekarang ini. Selama ini bank tersebut dikenal sebagai bank yang menjalankan prinsip-prinsip perbankan yang baik. Bahkan ibaratnya nama Citibank sudah merupakan jaminan mutu. Kita percaya sepenuhnya akan kredibilitas dan jaminan bertransaksi di bank tersebut.
Citibank selama ini dikenal mampu membangun sebuah sistem yang baik. Semua orang yang bekerja di tempat itu diperkenalkan kepada sistem bagaimana praktik perbankan itu seharusnya dijalankan dan bahkan kemudian diminta untuk memahami serta melaksanakannya dalam pekerjaan mereka setiap hari.
Begitu percayanya kita pada institusi ini, sampai semua bank-bank di Indonesia menjadikan “lulusan” Citibank sebagai andalan untuk menempati semua level di bank mereka. Bahkan bukan hanya bank, banyak perusahaan yang memakai orang-orang jebolan Citibank untuk menangani bagian keuangan perusahaan mereka.
Namun sistem bukan satu-satunya kunci keberhasilan. Orang tidak kalah pentingnya karena merekalah yang menjalankan sistem itu. Kompetensi dan karakter dari orang sangat menentukan apakah sistem itu bisa berjalan baik atau tidak.
Di sinilah Citibank menghadapi persoalan. Paling tidak sistem mereka yang berlapis ternyata jebol juga oleh karyawannya. Malinda Dee membalikkan semua cerita baik tentang Citibank ketika ia memanfaatkan jabatannya untuk mengambil uang nasabah dan hidup berfoya-foya.
Hingga kini kita belum tahu berapa besar dana yang berhasil diambil Malinda dari nasabah Citibank. Kita juga belum tahu siapa-siapa saja pemegang rekening dari uang yang diambil oleh Malinda. Yang jelas, Malinda hidup dalam gelimang harta dengan dua apartemen mewah yang dimiliki serta empat mobil mewah mulai dari jenis Ferrari, Mercedes Benz, dan jip Humvee yang ia pergunakan.
Belum lagi kasus Malinda terselesaikan, Citibank dihadapkan lagi pada persoalan buruknya pelayanan kepada nasabahnya. Seorang nasabah kartu kredit Citibank meninggal saat “diinterogasi” pegawai dan rekanan Citibank atas tunggakan yang ia miliki.
Kebesaran nama Citibank yang memahami pentingnya pelayanan benar-benar mendapat ujian berat. Sikap-sikap arogan dari karyawan akhirnya memukul balik nama baik perusahaan. Apalagi sampai ada nasabah yang meninggal di kantor cabang mereka.
Inilah yang sepantasnya menjadi perhatian pihak Citibank. Bahwa sistem yang baik hanya akan bisa berjalan dengan baik apabila ditopang dan dijalankan oleh manusia-manusia yang memiliki empati dan integritas yang juga baik.
Apa yang dialami Citibank sepantasnya menjadi peringatan bagi bank-bank lain. Apalagi kejahatan (fraud) yang terjadi di bank bukan hanya terjadi di Citibank. Kita tahu bahwa persoalan yang sama juga dihadapi bank-bank besar lainnya seperti Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Negara Indonesia.
Kita tahu bahwa kejahatan perbankan yang dilakukan karyawan bank persentasenya sangat kecil dibandingkan aset yang dikelola bank. Namun tetap kita tidak bisa menganggap enteng masalah, apalagi membiarkannya. Sebab, kekuatan dari bank adalah pada kepercayaan masyarakat dan pembiaran terhadap kejahatan seperti itu akan mempengaruhi kepercayaan masyarakat kepada perbankan.
Kunci untuk menghindarkan terjadinya kejahatan perbankan di samping faktor sikap dari para pegawai ditentukan juga oleh pengawasan. Kasus Malinda tidak mungkin akan terjadi apabila pengawasan yang dilakukan atasan berjalan dengan baik.
Kita tahu bahwa perbankan merupakan industri yang khas. Sistem yang diterapkan begitu berlapis. Tidak mungkin seorang pegawai bisa melakukan kejahatan sendiri, apalagi ketika pengambilan dana nasabah dilakukan melalui sistem yang normal.
Berbagai kejahatan perbankan yang terjadi pantas membuat Bank Sentral juga untuk turun tangan. Paling tidak mencoba mencari tahu apa yang terjadi dan kemudian memerintahkan kepada bank-bank untuk melakukan koreksi guna menghindarkan kejadian yang sama bisa terulang kembali.
Masih sangat relevan kalimat populer atau tagline dari Bang Napi ….
Kalau institusinya masih buruk, maka bisa jadi aspek: NIAT dan KESEMPATAN ada secara bersamaan, dan hasilnya …. luar biasa merusak!
@Kaharuddin Mahasiswa MEP 43
Terima kasih atas jawabannya. Kami sangat setuju. PENYEMPURNAAN INSTITUSI memang perlu dan penting
@Ana (Timor-Leste)
Dari perspektif kelembagaannya ternyata Institusi perbankan yang ada selama ini belum mumpuni untuk mencegah terjadinya praktek-praktek money laundring. Perlu penataan institusi yang dapat menjamin menyempitnya ruang praktek money laundring sehingga kepercayaan nasabah dan masyarakat terhadap jasa perbankan sebagai agen ekonomi benar pulih dan tumbuh pesat. Hanya dengan PENYEMPURNAAN INSTITUSI, perbankan bisa menjalankan fungsinya dengan baik.
Dari artikel diatas salah satu isi didalamnya mengenai penggelapan uang nasabah di citibank oleh Melinda Dee, sehingga sikap atau atetude melalukan fraud atau menggelapkan uang itu merupakan salah satu sikap pencucian uang (Money Laundring), karena orang yang melakukan transaksi kelompok tanpa dan bukan haknya itu untuk menkayakan dirinya itu dinamakan terrorist.
Dari artikel diatas salah satu isi didalamnya mengenai penggelapan uang nasabah di citibank oleh Melinda Dee, sehingga menarik saya untuk sedikit berkomentar bahwa fraud atau menggelapkan uang itu merupakan salah satu sikap pencucian uang (Money Laundring), karena orang yang melakukan transaksi kelompok tanpa dan bukan haknya itu untuk menkayakan dirinya itu dinamakan terrorist.