Home > Artikel, Diskusi > Property Rights for “Sesame Street”

Property Rights for “Sesame Street”

October 29th, 2013 humas Leave a comment Go to comments

Diterjemahkan secara bebas oleh rusmanik dari: Janet Beales Kaidantzis, Property Rights for “Sesame Street”

Perlu Hak Kepemilikan …

Pernahkah melihat anak-anak bertengkar memperebutkan mainan? Percekcokan seperti itu juga lumrah dalam rumah tangga Katherine Hussman Klemp. Dalam Sesame Street Parent’s Guide, dia menceritakan bagaimana dia berhasil menciptakan perdamaian delapan anak di keluarganya dengan menetapkan hak kepemilikan atas sebuah mainan.

Sebagaimana halnya ibu muda lainnya, Klemp sering membelikan anak-anaknya bermacam-macam permainan. “Awalnya aku jarang menyerahkan secara spesifik suatu jenis mainan tertentu kepada seorang anak tertentu,” katanya.

Lalu apa yang terjadi? “Setelah beberapa waktu, saya melihat dengan nyata bahwa ketidakjelasan kepemilikan sangat mudah menyebabkan pertengkaran diantara kedelapan anakku. Jika semuanya milik semua orang, maka tiap anak merasa memiliki hak untuk menggunakannya sesukanya” katanya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Klemp memperkenalkan dua aturan sederhana: Pertama, tidak pernah lagi membawakan suatu mainan ke dalam rumah tanpa menetapkan kepemilikan yang jelas pada seorang anak. Selanjutnya, kepada anak yang menjadi pemilik, diberi otoritas tertinggi atas penggunaan properti (mainan) tersebut.

Kedua, anak yang menjadi pemilik, tidak diharuskan untuk meminjamkan (berbagi) mainan yang dimilikinya tadi, sehingga status kepemilikannya bersifat pasti.

Sebelum aturan itu di tempat, Klemp ingat, “saya sangat sulit untuk menyelesaikan secara adil suatu pertengkaran rebutan mainan, dan saya selalu merasa tidak enak hati untuk menjatuhkan pembelaan pada seorang anak tertentu.”

Sekarang, dengan adanya aturan tersebut, hak miliklah yang menyelesaikan pertengkaran, bukan lagi ibunya.

Alih-alih mengajarkan egoisme, pengenalan hak milik justru mendorong anak untuk mau berbagi. Dengan adanya hak kepemilikan tadi, anak-anak merasa aman karena mereka tahu bahwa selalu bisa mendapatkan kembali mainan yang dipinjamkannya itu.

Klemp menambahkan, “dengan ‘berbagi’ seperti itu, justeru telah mengangkat harga diri anak-anak untuk melihat diri mereka sebagai orang yang murah hati.”

“Lalu, anak-anak juga tidak hanya menghargai hak milik pribadi mereka sendiri, tetapi juga, mereka memperluas pemahamannya bahwa menghargai milik orang lain pun sangatlah perlu.”

“Sekarang jarang sekali seorang anak menggunakan mainan anakku yang lain, tanpa meminta izin pada pemiliknya, dan mereka menghormati pesan “tidak boleh” saat izinnya tidak diperbolehkan”

“Hal terbaik dari semua itu adalah, ketika seseorang anak yang selalu berkata “tidak”, lalu suatu saat dia bermurah hati dengan berkata “ya boleh”, maka anakku yang meminjam tadi berasa mendapatkan sebuah hadiah, sehingga lebih sering berucap “terima kasih” daripada “tidak”.”

  1. October 31st, 2013 at 10:15 | #1

    @ Pak Sudar
    Silahkan untuk browsing di icnie.org. Mudah2an ada yang menarik ya

  2. Sudar
    October 30th, 2013 at 18:11 | #2

    Hak milik ya. Bukannya kalo ada hak milik malah bisa merusakkan

  1. No trackbacks yet.