About

February 17th, 2011 Leave a comment Go to comments

Selamat datang di ICNIE.ORG

Wihana K. Jaya

Wihana K. Jaya

ICNIE adalah Indonesian Community for New Institutional Economics, komunitas peminat New Institutional Economics di Indonesia. Sedangkan situs icnie.org adalah wujud keberadaan ICNIE. Inisiatif pengembangan ICNIE ini dimulai sejak tahun 2000 sebagai salah satu wujud pengabdian pada masyarakat.

Situs ini kami arahkan sebagai media bersama berbagi visi, ide dan gagasan terkait New Institutional Economics, khususnya kasus-kasus yang terjadi di Indonesia. Diharapkan media bersama ini mampu memberikan kontribusi positif bagi peningkatan kapasitas SDM terkait teori, permasalahan dan kebijakan bidang ekonomika kelembagaan baru sehingga lebih mampu dalam percepatan pembangunan di Indonesia. Sebagai media bersama, kinerja substansi isinya sangat ditentukan oleh partisipasi aktif seluruh pihak peminat New Institutional Economics.

Karenanya, dengan hormat kami mengundang bapak, ibu dan saudara sekalian untuk ikut serta aktif berbagi visi, ide dan gagasan, sehingga secara bersama-sama kita dapat meningkatkan pemahaman kita tentang teori, permasalahan dan strategi dalam domain New Institutional Economics di Indonesia.

Kecuali disebut secara spesifik, substansi isi dapat berupa hal-hal teknis-praktis terkait masalah-masalah ekonomika kelembagaan yang disajikan secara populer dari kita, oleh kita dan untuk semua.

Kami sebagai fasilitator akan selalu berupaya untuk meningkatkan kedalaman dan keluasan cakupan, serta kualitas cara penyajian isi situs ini.

Selamat datang, selamat berdiskusi dan selamat menikmati.

Wihana Kirana Jaya
Peminat dan Pengamat EKB, FEB UGM

Kontak:
• wihana[at]paue.ugm.ac.id
• icnie.humas[at]gmail.com

Catatan:
Untuk kemudahan diskusi, komentar terbaru telah diatur supaya muncul pada posisi paling atas.

  1. zarnawi sangadji
    February 24th, 2016 at 20:29 | #1

    Imperfect infomation selalu muncul dalam penyusunan dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah. Kami yang bekerja di lingkup Pemda seringkali terlaku fokus pada ketepatan waktu dalam penyusunan rencana dan evaluasi dimaksud atas perintah regulasi, sehingga mengabaikan kualitasnya. Adaptasi yang cepat terhadap perubahan eksternal (regulasi) sebagai konsekuensi dari pergantian roda kepemimpinan nasional mutlak dilakukan agar daerah tidak kehilangan momentum dalam upaya percepatan pembangunan. Imperfect information jika tidak diatasi akan berdampak pada tidak sinkron dan tidak sinerginya antara kebijakan/program pembangunan Nasional dan daerah. Tatakelola pemerintahan daerah harus didukung dengan teknologi telekomunikasi dan informasi, sehingga pengambilan keputusan akan lebih efektif dan efisien.

  2. February 28th, 2014 at 10:18 | #2

    Menarik nih ide tentang kebersamaan ABG. Kalau kebersamaan itu terjadi, betapa kuatnya NKRI. Kalopun tidak kuat, pastinya proses perkembangan NKRI sangatlah berarti.

    Apakah kebersamaan ABG belum ada di Indonesia? Kayaknya memang belum kuat ya. Perlu penguatan supaya saling memberdayakan dan bukan saling memperdaya.

    Kayaknya, prinsip pertamanya adalah: “kemitraan yang saling menguntungkan”. Tapi, istilah untung harus diperluas. Bukan dalam artian untung di dunia akuntansi, tetapi untung dalam artian yang lebih luas.

  3. Khairul Ramadhan
    February 24th, 2014 at 12:26 | #3

    Membangun Kebersamaan antara Akademisi, Pemerintah dan Pelaku Usaha (ABG = Academission, Government, Buissnes)

    Kebersamaan adalah sebuah kata yang mudah diucapkan namun dalam kenyataan banyak yang sulit untuk melaksanakannya. Sering orang berkomentar jika dalam keadaan susah kita bisa bersama, tetapi jika dalam keadaan senang kita nikmati sendiri. Padahal jika kita bisa menjaga kebersamaan tersebut maka banyak kerja yang bisa kita hasilkan secara efektif dan efisien, contohnya : Dirumah kita, jika pekerjaan rumah dibagi secara merata kepada anggota keluarga maka kita bisa melaksanakan pekerjaan rumah tersebut dengan seefektif mungkin, misalnya Bapak membersihkan halaman rumah, Ibu memasak, anak laki-laki membersihkan rumah bagian dalam dan anak perempuan membantu mencuci. Apabila hal itu dilakukan secara terkoordinasi maka pekerjaan rumah akan dapat terselesaikan secara efektif dan efisien. Akan tetapi bila tidak terkoordinasikan dengan baik maka yang terjadi Akan ada anggota keluarga yang sibuk dengan semua kegiatan rumah sementara di sisi lain akan ada anggota keluarga yang lain yang tidak ada tanggung jawab sama sekali terhadap pekerjaan rumah. Hal ini akan menyebabkan timbulnya diskomunikasi antar anggota keluarga, contoh : apabila pekerjaan rumah hanya dikerjakan oleh ibu maka si ibu akan dirugikan karena waktunya seharian akan habis untuk menyelesaikan pekerjaan rumah sehingga waktunya untuk dirinya sendiri akan cenderung dirampas oleh banyak pekerjaan di dalam rumah, hal tersebut dapat menyebabkan emosi si ibu cenderung labil karena kelelahan fisik dan psikis. Apabila dilihat dari kualitas hasil kerja biasanya juga kurang baik, karena dilakukan dengan kualitas fisik yang terbatas. Sehingga sering kita temui konflik di rumah hanya karena kaos kaki yang hilang ketika akan dipakai, piring yang berkurang karena pecah, rumah yang kotor yang tentu saja ini bisa membuat penghuni rumah cenderung tidak betah di rumah tersebut. Hal ini juga sebenarnya bisa kita jadikan analogi untuk melihat hubungan antara akademisi, pemerintah dan pelaku usaha, contohnya : di negara kita Indonesia, jika pekerjaan negara dibagi secara merata kepada anggota negara maka kita bisa menyelesaikan pekerjaan negara tersebut secara efektif dan efisien, misalnya akademisi membuat inovasi-inovasi baru, pemerintah membuat regulasi dan fasilitasi, pelaku usaha meramu inovasi dan fasilitasi tersebut menjadi kemakmuran, maka dapat dipastikan negara tersebut akan menjadi negara yang makmur. Sementara jika tidak ada koordinasi antara anggota negara tersebut yang terjadi adalah akademisi rendah inovasinya (sibuknya hanya mengamati !), pemerintah rendah fasilitasi (sibuknya hanya pencitraan !) dan pelaku usaha rendah kreatifitasnya dalam meramu inovasi dan fasilitasi (Sibuknya hanya meramu harta dan wanita !). Khairul Ramadhan (MEP UGM angkatan 50/ Bappenas X)

  4. Wessa Triawan
    October 13th, 2012 at 12:05 | #4

    Asslm..mau share sedikit mengenai reformasi birokrasi yang sedang digalakkan oleh KEMENPAN dan RB di daerah. Menurut pendapat saya Reformasi Birokrasi di daerah tidak akan berjalan dengan efektif selama faktor kedekatan dan putra daerah yang memegang peranan penting sebagai pihak yang dapat mengambil suatu keputusan. Selama kedua faktor tersebut masih ada, jangan berharap bahwa Reformasi Birokrasi itu akan berjalan dengan baik.

    Wessa Triawan
    PPKD
    MEP UGM 48/2012

  5. Armand Walay
    September 23rd, 2012 at 19:20 | #5

    Terima kasih Pak, atas kesempatannya untuk kami dapat membagi lewat Media ICNIE sebagai wujud pengabdian terhadap mayarakat………Sukses selalu Pak.
    Saat ini kami selalu tercengak dengan berbagai berita korupsi dimana – mana dan selalu menjadi pelaku adalah banyak dari kalangan Birokrasi di Daerah pak. Kejadian2 ini sungguh kami sesalkan dan sangat prihatin………
    Bila cermati dari sudut pandang Ekonomika Kelembanggaan, yang mengatur tatanan / aturan main baik secara formal maupun informal, ketika diaplikasikan dapat berimpilkasi terhadap perubahan pola pikir secara Primordial yang dikembangkan dengan Transaction Culture pada suatu daerah?, ketika Civil Society terperangkap dan terpasung dalam keinginan Penguasa.

  6. September 19th, 2012 at 10:04 | #6

    Terima kasih atas kunjungannya. Sudah lama tidak update nih. Kedatangan bapak/ibu jadi penyemangat nih ;-)

  7. Adrial Karami
    September 15th, 2012 at 08:01 | #7

    Pemerintahan yang amanah adalah pemerintahan yang mampu mendengarkan dan menjalankan apa yang rakyatnya butuhkan saat ini, kebijakan pembangunan perekonomian yang pro rakyat adalah salah satu upayanya selain pengaplikasian good and clean government. maju terus ICNIE, the agent of change..

  8. zarnawi sangadji
    September 14th, 2012 at 21:23 | #8

    kita butuh banyak input dari INCNIE dalam upaya reformasi birokrasi di tanah air. Lets Go Public ICNIE!

    Zarnawi sangadji
    MEP-48/2012

  9. hermada
    February 14th, 2012 at 20:54 | #9

    @Lina
    Ingin coba share….secara teoritis pajak akan membuat penjual/produsen menaikkan harga jual. Dari sisi permintaan, kenaikan harga jual akan menyebabkan jumlah barang yang diminta berkurang. Hal ini digambarkan dengan bergeseranya kurva supply ke kiri (atas) sedang kurva demand tetap. Sebagian beban pajak akan dialihkan oleh penjual ke konsumen yang besarnya per unit adalah (harga setelah pajak dikurangi harga keseimbangan). Besar kecilnya pajak yang ditanggung konsumen atau produsen sangat dipengaruhi elastisitas kurva permintaan. Semakin elastis kurva permintaan, beban pajak produsen semakin besar.

Comment pages
1 ... 8 9 10 2
  1. No trackbacks yet.